Sahabat Generasi Emas, Kebiasaan Boros Ternyata Jadi Pengaruh Masalah Kesehatan Mental yang Paling Tinggi. Waduh, Kenapa Begitu ?

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 8 Januari 2025 | 19:51 WIB
Ilustrasi mata uang Rupiah (Kalimantansatu.com/Pixabay R4CProject)
Ilustrasi mata uang Rupiah (Kalimantansatu.com/Pixabay R4CProject)

KALIMANTANSATU.COM - Boros atau pengeluaran yang berlebihan sering kali dianggap hanya sebagai masalah keuangan, namun dalam kenyataannya, perilaku ini dapat memengaruhi kesehatan mental secara signifikan.

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan belanja yang tidak terkontrol bisa memperburuk gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, dan stres.

Dampak psikologis dari pengeluaran berlebihan, baik yang disebabkan oleh kebiasaan hidup konsumtif atau tekanan sosial, menjadi masalah yang semakin relevan di tengah dunia yang semakin materialistis.

Dampak Boros

Salah satu dampak terbesar dari boros adalah terjadinya utang yang menumpuk.

Baca Juga: Wahai Pelaku UMKM Makanan Kemasan ! Ketahui 5 Tips Cara Agar Produk UMKM Tahan Lama dan Tidak Mudah Basi

Ketika seseorang terus-menerus berbelanja lebih dari kemampuan mereka, utang yang dihasilkan bisa menyebabkan perasaan cemas yang berkelanjutan.

Menurut studi yang diterbitkan oleh Psychology Today, individu yang memiliki utang cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki utang.

Kecemasan ini sering kali dipicu oleh ketakutan akan masa depan finansial yang tidak pasti, dan khawatir tentang kemampuan untuk melunasi utang-utang tersebut.

Ketegangan mental yang timbul dari utang ini bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan yang serius jika tidak diatasi dengan baik.

Boros juga dapat menyebabkan kerusakan pada rasa harga diri seseorang.

Baca Juga: Usia Pensiun Naik Jadi 59 Tahun Mulai 2025, Apa Manfaat yang Diterima Pensiunan ?

Dalam banyak budaya, terutama di negara-negara dengan ekonomi kapitalis, konsumerisme sering kali menjadi tolak ukur status sosial.

Banyak orang merasa tertekan untuk menghabiskan uang demi membeli barang-barang mewah atau mengikuti tren, meskipun mereka tidak mampu secara finansial.

Ini tidak hanya menciptakan kesenjangan finansial, tetapi juga berkontribusi pada masalah identitas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X