Pengamat Ekonomi Ferry Latuhihin Soroti Beda Data BPS vs Bank Dunia, Minta Publik Tak Terjebak Angka Kemiskinan Indonesia

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Sabtu, 13 September 2025 | 16:24 WIB
Pengamat ekonomi, Ferry Latuhihin menyoroti perbedaan angka kemiskinan RI antara BPS dengan Bank Dunia. (Kalimantansatu.com/Dok. Tonny Hermawan Adikarjo)
Pengamat ekonomi, Ferry Latuhihin menyoroti perbedaan angka kemiskinan RI antara BPS dengan Bank Dunia. (Kalimantansatu.com/Dok. Tonny Hermawan Adikarjo)

Selain soal metode, Ferry juga menyoroti perbedaan kondisi geografis dan sosial antara desa dan kota di Indonesia.

Baca Juga: IHSG Sepekan Ditutup Bervariasi, Kapitalisasi Pasar BEI Mengalami Perubahan Sebesar 0,57% Menjadi Rp14.130 T dari Rp14.211 T pada Pekan Sebelumnya

Pengamat ekonomi itu menyebut, di pedesaan, warga RI mungkin bisa bertahan hidup dengan Rp20.000 per hari, sementara di perkotaan angka tersebut jelas tidak mencukupi.

"Tentu konsumsi di desa berbeda dengan di Jakarta. Karena mayoritas penduduk masih ada di desa, sementara urbanisasi dan industrialisasi kita belum berhasil, maka hasil pengukuran ini jadi timpang," kata Ferry.

Ia mencontohkan keberhasilan China dalam mendorong urbanisasi dan industrialisasi, yang membuat pengukuran kemiskinan di negara itu lebih sesuai dengan standar internasional.

Hal tersebut, menurut Ferry, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Indonesia.

"Dan tentu, konsumsi di desa kan berbeda dengan yang di Jakarta. Tapi karena mayoritas penduduk kita masih ada di pedesaan, kita tidak berhasil melakukan urbanisasi, industrialisasi, hasilnya seperti ini," tutur Ferry.

"Beda dengan China, di sana urbanisasi luar biasa. Industrialisasinya juga berhasil," tukasnya.

(*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X