KALIMANTANSATU.COM - Polemik kekosongan stok bahan bakar minyak (BBM) milik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta mulai mendapat jalan keluar penyelesaian.
4 perusahaan SPBU swasta yang beroperasi di Indonesia, yakni Shell Indonesia, BP-AKR, ExxonMobil, dan Vivo sudah mengadakan pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan menyatakan persetujuan membeli BBM dari Pertamina.
Lantas, apakah pembelian BBM dari Pertamina merupakan bentuk monopoli yang dilakukan oleh perusahaan milik negara tersebut?
DPR: Kolaborasi SPBU Swasta dan Pertamina, Bukan Monopoli
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan bahwa penawaran pembelian BBM ke Pertamina bukanlah sebuah monopoli, melainkan bentuk kolaborasi.
Menurut Bambang, jatah kuota impor 100 persen ditambah 10 persen di tahun 2025 untuk SPBU swasta sudah diberikan oleh pemerintah.
“Kita akui di suatu saat tertentu akan ada lonjakan demand, ya kan karena berbagai macam kejadian. Tetapi intinya, kuota yang diberikan itu untuk setahun, untuk 12 bulan,” ucap Bambang Patijaya dalam diskusi Indonesia Business Forum pada Rabu, 24 September 2025.
BBM sebagai salah satu persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus diatur oleh negara.
“Jadi, win-win yang diberikan (pemerintah) adalah kolaborasi dengan Pertamina. Jadi, kata kolaborasi ini secara langsung itu meniadakan kata-kata monopoli itu, nggak ada,” imbuhnya.
“Kalau dibilang monopoli satu pintu, buktinya kan sudah ada kuota SPBU swasta yang diberikan. Kalau nggak, dari awal tidak ada. Dilihatnya dari belakang, mereka sudah dapat kuota,” paparnya.
Pengamat: Harus Ada Pengawasan dari Pertamina
BBM impor ke Indonesia yang menyangkut devisa negara dan neraca perdagangan harus dikendalikan, termasuk pengendalian dari BBM nonsubsidi dari Pertamina.
“Yang penting negara sudah menjamin ada pasokan BBM di Indonesia, kalau tidak ada, baru negara wajib kita gugat,” ujar Ketua Forum Konsumen Indonesia (FKBI) Tulus Abadi dalam acara tersebut.
Artikel Terkait
PLTU dan 'Tagihan Sunyi' Kesehatan Publik yang Konsisten Tinggi : Ribuan Kematian Dini, Triliunan Rupiah Melayang
Apa Fungsi Kawasan Berikat ? Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Ungkap Tidak Hanya Sebatas Menjadi Motor Pendorong Ekspor
Mediapreneur Talks 2025 Sukses di Kota Surabaya, Seminar Jurnalistik Seputar Bisnis Media hingga Transformasi Digital. Ini Rangkumannya !
Momen Hangat Prabowo Subianto dan Raja-Ratu Belanda Bertemu, Simbol Penghormatan Tinggi untuk Indonesia
Singgung Crazy Rich yang Ogah Patuh Bayar Pajak, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Targetkan Rp60 Triliun dari Kantong Pengemplang Pajak. Ada Jerat Khusus ?
Di Balik Pilu Nanik Deyang Minta Maaf Karena Gelombang Keracunan MBG dari Jawa hingga Sulawesi, BGN Janji Evaluasi Total di Tengah Krisis Kepercayaan
Datang ke Mediapreneur Talks Promedia di Surabaya, Anggota DPD RI Asal Jatim Lia Istifhama Punya Harapan untuk Para Jurnalis. Apa itu ?
Dinilai Positif, Proyek Pani Merdeka Gold Resources (EMAS) Digadang-gadang Bakal Jadi Tambang Emas Primer Terbesar di Asia Pasifik
Kini MBG Program Andalan Prabowo Subianto Menjadi Sorotan Karena Marak Kasus Keracunan, Siapa yang Harus Bertanggungjawab ?
Gaduh Kasus Keracunan MBG di Sejumlah Wilayah Indonesia, Polri hingga DPR Soroti Standar Keamanan Menu Makan Bergizi Gratis di Sekolah