Selain Utang Jumbo Rp116 Triliun, Mahfud MD Soroti Tenaga Kerja di Balik Whoosh yang Tidak Didominasi Orang Indonesia

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 09:30 WIB
Mahfud MD ungkap tenaga kerja di proyek Whoosh didominasi China. (Kalimantansatu.com/Dok. YouTube Mahfud MD Official, Instagram @keretacepat_id)
Mahfud MD ungkap tenaga kerja di proyek Whoosh didominasi China. (Kalimantansatu.com/Dok. YouTube Mahfud MD Official, Instagram @keretacepat_id)

KALIMANTANSATU.COM - Whoosh menjadi perbincangan publik seusai pengakuan Kereta Api Indonesia (KAI) bahwa pembayaran bunga utang proyek tersebut kini sudah menyentuh angka Rp2 triliun, sementara pemasukan tiket disebut hanya Rp5 triliun.

Selanjutnya, makin memanas ketika Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tegas menyatakan tak mau mengambil dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menutup utang yang membengkak hingga Rp116 triliun.

Mahfud MD kemudian hadir dengan mengingatkan lagi soal tudingan kemungkinan ada mark up dalam pengadaan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) itu yang ia klaim mengutip dari pernyataan pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio dan pengamat ekonomi, Anthony Budiawan.

Terbaru, Mahfud MD mengungkapkan bahwa meski Whoosh beroperasi di Indonesia, namun tetap saja ‘dikuasai’ oleh China.

Baca Juga: Polemik Utang Whoosh Rp116 T Membayangi Negara, Mahfud MD Pertanyakan Isi Kontrak Indonesia dengan China ! Ini Poin-poinnya

Pekerja di Proyek KCIC Didominasi China

Dalam video yang diunggah di kanal YouTube Mahfud MD Official pada Jumat malam, 24 Oktober 2025, Mahfud mengungkapkan fakta miris soal pembagian tenaga kerja di lingkup proyek KCIC itu.

Hal itu ia sebutkan saat membahas tulisan 4 tahun lalu mantan Direktur YLBHI, Agustinus Edy Kristianto atau AEK di manna menyebut proyek Whoosh ibarat bom waktu yang siap meledak.

“Ada beberapa hal yang bisa dinukil dari tulisan AEK ini. Begini, dalam proyek itu saham Indonesia sebesar 60 persen dan china 40 persen,” kata Mahfud.

Sayangnya, meski saham lebih besar dimiliki Indonesia, para tenaga kerja dengan posisi penting justru banyak yang berasal dari pihak China.

“Pejabat strategisnya didominasi oleh pihak China seperti presiden komisaris, direktur keuangan, dan direktur tekniknya,” imbuhnya.

“Sekarang ini China sudah mulai mendapat keuntungan, sedangkan Indonesia masih menanggung utang yang bunganya saja sangat besar,” tambahnya.

Mahfud kemudian membawa data lain dari riset thepeoplesmap.net, menyebut bahwa ada perjanjian 24 ribu pekerja lokal yang harus diserap dari 39 ribu.

“Tapi dalam praktiknya, mayoritas manajemen top level adalah ekspatriat China. Sedangkan yang dari Indonesia sebagian besar hanya buruh-buruh kecilnya,” papar Mahfud.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X