Sektor Konsumsi Rumah Tangga Menjadi Jangkar Perekonomian Indonesia Tahun 2025, Pengamat Ekonomi Noviardi Ferzi Sebut 2026 Momentum Akselerasi Sektor

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Kamis, 5 Februari 2026 | 12:07 WIB
Sektor Konsumsi Rumah Tangga Menjadi Jangkar Perekonomian Indonesia Tahun 2025, Pengamat Ekonomi Noviardi Ferzi Sebut 2026 Momentum Akselerasi Sektor  (Kalimantansatu.com/Dok. Noviardi Ferzi)
Sektor Konsumsi Rumah Tangga Menjadi Jangkar Perekonomian Indonesia Tahun 2025, Pengamat Ekonomi Noviardi Ferzi Sebut 2026 Momentum Akselerasi Sektor (Kalimantansatu.com/Dok. Noviardi Ferzi)

Ia mendorong sinergi kebijakan harga gas industri, pengamanan pasar domestik, serta relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara selektif agar industri nasional tetap kompetitif.

Ia juga menekankan pentingnya revitalisasi sektor manufaktur melalui program Making Indonesia 4.0 guna menciptakan efek pengganda terhadap tenaga kerja, ekspor, dan pertumbuhan daerah.

Adapun dalam penguatan UMKM, Noviardi merekomendasikan pengembangan business matching antara usaha besar dan UMKM, peningkatan kompetensi melalui workshop berkelanjutan, serta kemitraan rantai pasok agar UMKM dapat naik kelas dan menembus pasar global.

Di saat yang sama, ia meminta agar alokasi pembiayaan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) benar-benar mengalir ke sektor riil, bukan terserap di instrumen keuangan semata.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kualitas pertumbuhan sama pentingnya dengan angka pertumbuhan itu sendiri.

Pertumbuhan harus bersifat inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya beli kelas menengah agar konsumsi tetap terjaga.

Baca Juga: Akhiri Sengkarut Area Abu-abu dan Tumpang Tindih, Danantara Tarik Garis Tegas Antara Asuransi Umum dan Penjaminan Kredit

“Kalau investasi berkualitas, hilirisasi, dan UMKM bergerak serentak, maka pertumbuhan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas—menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya beli, dan mengurangi ketimpangan,” katanya.

Noviardi menutup dengan menegaskan bahwa 2026 harus menjadi momentum transformasi ekonomi nasional, bukan sekadar tahun menjaga stabilitas.

“Indonesia tidak boleh puas di angka 5 persen. Kita perlu pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Di situlah sektor riil harus ditempatkan sebagai lokomotif utama pembangunan ekonomi,” pungkasnya.

(*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X