Capaian ini menandai pulihnya rantai pasok dalam negeri dari hambatan seperti kenaikan harga gas industri, pemadaman listrik, dan mahalnya bahan baku impor pada bulan sebelumnya.
“Rantai pasok industri dalam negeri pada bulan Juli 2026 menunjukkan aktivitas lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan Juni lalu, industri dalam negeri mengalami masalah pada sisi produksi seperti pemadaman listrik, kenaikan harga gas industri dan kenaikan harga bahan baku impor telah teratasi dengan baik,” kata Febri.
Meski demikian, variabel persediaan tercatat mengalami kontraksi lantaran sebagian produsen memilih menahan stok barang di gudang.
“Sebagian industri masih menahan sebagian stok barang hasil produksi di bulan sebelumnya, karena masih menunggu perkembangan industri makro, kebijakan atau insentif dari pemerintah pada produksinya. Setelah ada perkembangan, industri akan segera mendistribusikan hasil produksi ke pasar mengingat permintaan terus meningkat,” timpal Febri.
Performa Subsektor dan Optimisme Pelaku Usaha
Kinerja terbaik diraih oleh subsektor Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, dan Semi Trailer, serta Industri Minuman.
Hanya satu sektor yang mengalami penurunan, yakni Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki akibat seretnya permintaan ekspor serta mahalnya biaya logistik global.
“Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya penumpukan stok produk jadi pada sebagian industri, sehingga perlu terus diantisipasi melalui penguatan permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor,” imbuhnya.
Secara umum, tingkat keyakinan pelaku usaha kian menguat. Sebanyak 77,9 persen responden menilai kondisi bisnis mereka membaik atau stabil. Angka pesimisme untuk enam bulan mendatang pun turun menjadi 7,0 persen, meski optimisme berada di level 67,8 persen.
“Ini menunjukkan bahwa dunia usaha masih memiliki keyakinan terhadap prospek industri nasional, namun tetap mencermati berbagai perkembangan ekonomi global secara hati-hati,” tuturnya.
Menghadapi tantangan arus produk impor dan perlambatan ekspor, Kemenperin menyiapkan berbagai langkah antisipatif.
Strategi tersebut mencakup percepatan program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengetatan pengendalian impor, peningkatan kebijakan TKDN, serta dorongan investasi manufaktur berbasis teknologi tinggi guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
(Prabu Warah)