Menperin Agus Gumiwang: BUMN Harus Jadi Pembangun Kapabilitas Nasional, Bukan Sekadar Pelaksana Proyek

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Logo BP BUMN - Menperin Agus Gumiwang: BUMN Harus Jadi Pembangun Kapabilitas Nasional, Bukan Sekadar Pelaksana Proyek (DOk. BP BUMN)
Logo BP BUMN - Menperin Agus Gumiwang: BUMN Harus Jadi Pembangun Kapabilitas Nasional, Bukan Sekadar Pelaksana Proyek (DOk. BP BUMN)

KALIMANTANSATU.COM - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan peran vital Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam agenda industrialisasi nasional.

BUMN ditekankan agar tidak sekadar menjadi entitas pemilik aset atau pelaksana proyek belaka, melainkan wajib menjadi motor pembangun kapabilitas nasional.

Lanjut Agus, langkah ini direalisasikan melalui penguatan rantai nilai, percepatan hilirisasi, pembukaan akses pasar, pemanfaatan teknologi, pembinaan talenta, serta pelibatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) ke dalam rantai pasok.

Baca Juga: Bekali Peserta P3MD, Menperin Agus Gumiwang Ingatkan Pemimpin BUMN Hadapi Risiko Majemuk dan Dinamika Global, Sebut Ukuran Perusahaan Bukan Jaminan!

Menperin menjelaskan bahwa industrialisasi merupakan instrumen transformasi struktural untuk menggenjot produktivitas, menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta menaikkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Industrialisasi adalah proses membangun kemampuan bangsa, mulai dari kemampuan mengolah sumber daya, menguasai teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, memperkuat rantai pasok, menciptakan merek, hingga menembus pasar global,” ungkapnya Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita saat memberikan pembekalan pada Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (President’s Future Leaders Program/P3MD) Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026 di Kodiklat TNI, Serpong, Rabu (19/8/2026).

Capaian Fundamental Industri Manufaktur Indonesia

Agus menggarisbawahi bahwa hilirisasi sumber daya alam merupakan langkah awal, bukan akhir.

Indonesia tidak boleh sebatas menjadi penyedia bahan mentah atau pasar bagi produk luar negeri, melainkan harus memaksimalkan potensi pasar domestik sebagai pilar industri nasional.

Adapun capaian positif manufaktur nasional tercermin dalam sejumlah indikator utama, diantaranya sebagai berikut:

  • Pertumbuhan Sektor: Industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026 tumbuh 5,32% (yoy)—melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29%. Sektor ini menyumbang 16,83% terhadap PDB nasional atau sekitar Rp1.102,88 triliun.
  • Investasi & Tenaga Kerja: Realisasi investasi manufaktur nonmigas mencapai Rp199,48 triliun (berkontribusi 38,89% dari total investasi nasional), dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 19,99 juta orang hingga Februari 2026.
  • Kinerja Ekspor & Indikator Bisnis: Ekspor manufaktur nonmigas periode Januari–Juni 2026 menembus USD 115,50 miliar (mendominasi 82,03% total ekspor nasional). Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 berada di level 53,1 dan PMI Manufaktur bertahan di zona ekspansif 50,2.
  • Peringkat Dunia (Manufacturing Value Added/MVA): Nilai MVA Indonesia tahun 2025 mencapai USD 275,61 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara.

(Prabu Warah)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X