ekonomi-bisnis

Target Bappenas 2029: Konsumsi Listrik Capai 1.720 kWh per Kapita Melalui Pemerataan EBT, Dorong Transformasi Spasial Energi

Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:21 WIB
ILUSTRASI MENARA TRANSMISI LISTRIK - Target Bappenas 2029: Konsumsi Listrik Capai 1.720 kWh per Kapita Melalui Pemerataan EBT, Dorong Transformasi Spasial Energi (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay Nikiko)

KALIMANTANSATU.COM - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan tingkat konsumsi listrik nasional melonjak hingga 1.720 kilowatt hour (kWh) per kapita pada tahun 2029.

"Menuju tahun 2029, kami bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan pasokan listrik secara nasional, dengan konsumsi listrik mencapai 1.720 kWh per kapita," ungkap Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam Indonesia Sustainable Energy Week 2026 (ISEW 2026) di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Sebagai pembanding, realisasi konsumsi listrik per kapita saat ini berada pada level 1.584 kWh dengan rasio elektrifikasi nasional yang telah menembus 99,83 persen.

Baca Juga: Hasil RDG BI Agustus 2026: Suku Bunga BI Rate Bertahan di Level 5,75 Persen! Perkuat Kebijakan Makroprudensial dan Digitalisasi Pembayaran

Urgensi Akses Energi dan Potensi EBT Nasional

Pemerataan pasokan listrik dipandang sebagai fondasi vital dalam menopang perekonomian daerah serta ketersediaan fasilitas publik dasar, antara lain :

  • Sektor Publik & Usaha: Menjamin operasional kegiatan pendidikan, keandalan layanan kesehatan, hingga daya saing usaha lokal.
  • Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT): Indonesia mengantongi potensi energi terbarukan teridentifikasi hingga lebih dari 3.600 gigawatt (GW), namun porsi pemanfaatannya masih di bawah 16 persen dari total kapasitas listrik terpasang.

"Akses energi menentukan apakah sekolah masih dapat beroperasi, fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan yang andal, usaha lokal dapat berkembang, dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam ekonomi. Peluangnya sangat besar, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang teridentifikasi sebesar lebih dari 3.600 gigawatt," jelasnya.

Tantangan Geografis dan Solusi Transformasi Spasial

Tantangan utama pengembangan energi bersih terletak pada ketimpangan lokasi antara pusat beban dan sumber energi.

Mayoritas populasi berada di Pulau Jawa, sedangkan potensi besar EBT tersebar di wilayah luar Jawa, seperti Sumatera (lebih dari 1.200 GW) serta Maluku dan Papua (918 GW secara kolektif).

Guna mengatasi hambatan geografis tersebut, pemerintah menekankan perlunya integrasi antara pengembangan pembangkit EBT dan penguatan jaringan transmisi antarwilayah.

"Indonesia harus mengaitkan transisi energinya dengan transformasi spasial. Kita tidak bisa mengembangkan pembangkit energi terbarukan tanpa secara bersamaan membangun infrastruktur transmisi yang diperlukan untuk menyalurkan listrik tersebut," timpal Rachmat Pambudy.

(Uploader: Panji Narendra M.)

Tags

Terkini