Ketergantungan Bukit Asam (PTBA) Terhadap Batu Bara di Tengah Tren Energi Hijau, Apakah Klaim Berhasil Tekan Emisi Karbon Hanya Manis di Bibir Saja ?

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Kamis, 25 September 2025 | 17:43 WIB
Ilustrasi batu bara. Ketergantungan Bukit Asam (PTBA) Terhadap Batu Bara di Tengah Tren Energi Hijau, Apakah Klaim Berhasil Tekan Emisi Karbon Hanya Manis di Bibir Saja ? (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay OnzeCreativitijd)
Ilustrasi batu bara. Ketergantungan Bukit Asam (PTBA) Terhadap Batu Bara di Tengah Tren Energi Hijau, Apakah Klaim Berhasil Tekan Emisi Karbon Hanya Manis di Bibir Saja ? (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay OnzeCreativitijd)

KALIMANTANSATU.COM - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih sulit melepaskan diri dari ketergantungan pada batu bara di tengah gencarnya kampanye transisi energi bersih.

Perusahaan pelat merah itu menargetkan net zero emission 2060 dan mengklaim berhasil menekan emisi karbon hingga 305 ribu ton CO₂e pada 2024 melalui efisiensi energi dan reklamasi lahan bekas tambang.

PTBA juga menyiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Ombilin dan Tanjung Enim berkapasitas 100–200 MWp.

Baca Juga: Kabar Saham Hari Ini : Kenapa Anak Usaha Diamond Food Indonesia (DMND) Digugat PKPU ? Begini Penjelasan Manajemen dan Langkah yang Diambil

Namun, laporan think tank energi bersih Ember pada 2024 menunjukkan kenyataan berbeda. 

“Emisi metana dari tambang batu bara Indonesia bisa mencapai delapan kali lipat lebih tinggi dibanding laporan resmi,” tulis Ember dalam analisisnya, dikutip pada Kamis, 25 September 2025. 

Metana merupakan gas rumah kaca yang dampaknya 80 kali lebih kuat dibanding CO₂ dalam jangka pendek, dan hingga kini belum masuk hitungan resmi emisi perusahaan.

Sejumlah catatan menunjukkan klaim hijau PTBA belum sebanding dengan kenyataan.

Tempo.co menulis, porsi terbesar emisi PTBA justru berasal dari Scope 3, yakni emisi dari pemakaian batu bara oleh pelanggan. 

Baca Juga: Terpantau Dua Kali Transaksi ! Pengendali Era Mandiri Cemerlang Jual Saham IKAN Sebanyak 20 Juta Lembar, Segini Duit yang Dikantongi dan Sisa Sahamnya

Emisi jenis ini terus naik sejak 2021, meski sempat turun sedikit pada 2023.

Artinya, bisnis utama PTBA masih meninggalkan jejak karbon raksasa di luar kendali langsung perusahaan.

Dampak sosial pun nyata. Studi yang dipublikasikan di Aerosol and Air Quality Research tahun 2024 menemukan prevalensi penyakit paru hitam (black lung disease) di kalangan penambang batu bara Indonesia mencapai 13,88 persen. 

Penelitian lain di Tanjung Enim juga menunjukkan adanya paparan radioaktivitas alami di area tambang yang dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat sekitar.

Dengan sederet fakta tersebut, PTBA tampak terjebak dalam kontradiksi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X