KALIMANTANSATU.COM - PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) mengalami penurunan angka penjualan cukup signifikan dari PLN Prabayar dari Rp15,66 miliar per 30 Juni 2024 menjadi Rp246,07 juta per 30 Juni 2025.
Hal itu terungkap dalam Laporan Keuangan Interim Yang Tidak Diaudit dalam rangka pemantauan Bursa atas kinerja saham dan kinerja keuangan Perseroan.
Direktur Utama Hensel Davest Indonesia Kresnal Pangaroan menegaskan, penurunan ini terutama disebabkan oleh perubahan strategi bisnis Perseroan yang mengurangi fokus pada penjualan token PLN prabayar karena margin semakin menurun akibat persaingan ketat dan regulasi harga pemerintah.
"Selain itu, adanya peralihan konsumen ke platform digital besar seperti bank dan e-wallet nasional yang memiliki jangkauan distribusi lebih luas," ungkapnya dalam penjelasan Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip Kalimantansatu.com, Jumat (26/9/2025).
PLN Prabayar, timpal dia, bukan satu-satunya produk Perseroan, karena selain itu Perseroan juga menjalankan usaha distribusi produk digital seperti pulsa, paket data, dan voucher, mengembangkan aplikasi serta software untuk segmen korporasi, melakukan investasi strategis pada entitas anak di bidang solusi teknologi, dan dalam waktu dekat akan meluncurkan layanan baru berupa QRIS Acquirer yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan.
"Tidak ada perjanjian eksklusif yang mengikat Perseroan untuk hanya memperjualbelikan produk PLN Prabayar. Perseroan bebas melakukan diversifikasi produk digital lain sesuai strategi bisnis," timpalnya.
Kresnal Pangaroan merincikan, pelanggan Perseroan pada segmen PLN Prabayar adalah agen distribusi dan mitra ritel yang menyalurkan token listrik ke konsumen akhir.
"Per 30 Juni 2025, kontribusi penjualan didominasi oleh beberapa agen ritel utama di wilayah Sulawesi Selatan, dengan volume transaksi yang relatif kecil dibandingkan periode sebelumnya akibat penghentian kontrak dengan mitra besar," jelasnya.
Ia mengungkapkan strategi yang akan diterapkan HDIT untuk kembali meningkatkan penjualan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
"Perseroan menyiapkan strategi dengan melakukan diversifikasi produk digital ke layanan non-PLN seperti voucher belanja, voucher game, dan produk keuangan digital, memperkuat platform internal melalui pengembangan fitur dan peningkatan pengalaman pengguna, menjalin kerja sama strategis dengan mitra distribusi maupun fintech untuk memperluas basis pelanggan," kata dia memaparkan.
"Fokus pada segmen korporasi dan B2B guna mendorong penjualan dalam jumlah besar, mengoptimalkan entitas anak di bidang teknologi untuk mendukung inovasi dan menciptakan pendapatan berulang, serta mengaktifkan layanan QRIS Acquirer sebagai PJP1 berizin di Bank Indonesia," pungkasnya.
(*)
Artikel Terkait
Bikin Investor Ritel Saham Merugi! Aplikasi Growin Mandiri Sekuritas Error saat Open Market 22 September 2025, Ungkapan Kekesalan Hingga Ajakan Pindah
Auto Senyum Diguyur Cuan Nih ! Merdeka Gold Resources Listing Perdana, Harga Saham EMAS Langsung ARA 25% saat Open Market IDX 23 September 2025
Kabar Saham Hari Ini : Yopie Tribayu Mundur dari Direktur LCK Global Kedaton (LCKM)
Kabar Saham Hari Ini : Kapan Jadwal RUPS PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) ? Cek Lokasi, Ada 2 Agenda Khusus RUPSLB
Kabar Saham Hari Ini : Komisaris Utama PT Damai Sejahtera Abadi Tbk Pudji Harianto Beli Saham UFOE, Jumlah Kepemilikannya Bertambah Jadi Segini
Terpantau Dua Kali Transaksi ! Pengendali Era Mandiri Cemerlang Jual Saham IKAN Sebanyak 20 Juta Lembar, Segini Duit yang Dikantongi dan Sisa Sahamnya
Kabar Saham Hari Ini : Kenapa Anak Usaha Diamond Food Indonesia (DMND) Digugat PKPU ? Begini Penjelasan Manajemen dan Langkah yang Diambil
Kabar Saham Hari Ini : Setelah Ekspor Perdana ke Amerika Serikat, Zyrexindo Mandiri Buana (ZYRX) Dapat Fasilitas KITE dari Ditjen Bea Cukai Kemenkeu
Kabar Saham Hari Ini : Sawit Sumbermas Sarana (SMSS) Rencana Akuisisi 63,4% Saham PT Sawit Mandiri Lestari Senilai Rp1,6 T dari PT Citra Borneo Indah
Kabar Saham Hari Ini : PT Suparma Tbk (SPMA) Umumkan Pembagian Dividen Tahun Buku 2024 Senilai Rp378,4 Miliar ! Cek Jadwal dan Berapa Rasionya