perbankan

Kerja Apik Bank DBS Indonesia! DBS Treasures Unggul di Tengah Volatilitas, NPAT Melonjak 289% YoY via Strategi Kekayaan Global Berbasis Insight Pakar

Jumat, 19 Juni 2026 | 15:07 WIB
DBS Treasures mencatat Net Profit After Tax (NPAT) yang tumbuh signifikan sebesar 289 persen secara tahunan (YoY), melampaui target anggaran sebesar 157 persen. (Kalimantansatu.com/Dok. Bank DBS Indonesia)

Hal ini turut memperkuat posisi Bank DBS Indonesia sebagai mitra tepercaya bagi nasabah dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan lintas generasi.

Bagaimana Strategi Bank DBS Indonesia untuk Diversifikasi Investasi Saat Ini?

Ketidakpastian global masih dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan, dinamika geopolitik, serta inflasi yang bertahan di atas target Federal Reserve.

Di Amerika Serikat, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Maret 2026 tercatat 3,5 persen YoY, lebih tinggi dari target Federal Reserve sebesar 2 persen, sehingga suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 5,61 persen YoY pada kuartal I 2026, sehingga membuka peluang bagi investor untuk membangun portofolio terdiversifikasi melalui kombinasi aset defensif dan aset pertumbuhan.

Baca Juga: Listrik Padam, UMKM Menjerit ! Curhat Produsen Roti Terganggu karena Pemadaman Listrik Tanpa Pemberitahuan PLN, Buang Adonan hingga Tutup Toko

Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan, tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat.

Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang.

"Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti," terangnya.

Salah satu strategi utama investasi dari CIO Office DBS adalah mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif.

Hal ini didukung oleh lonjakan permintaan investasi emas global secara nilai sebesar 74 persen YoY pada kuartal I 2026, sementara permintaan emas batangan di Indonesia meningkat 47 persen.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Bank DBS Indonesia menjadi bank pertama yang menyediakan akses ke pasar emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar.

Lebih dari itu, Bank DBS Indonesia terus melanjutkan pertumbuhan yang tangguh didukung oleh 16 produk investasi baru yang telah dikurasi untuk memperkuat ketahanan portofolio nasabah sekaligus memperluas pilihan investasi yang relevan dalam berbagai kondisi pasar.

Baca Juga: Viral Curhatan Supplier Ogah Jadi Pemasok MBG karena Permintaan Turunkan Harga dari SPPG, Minta Harga Rendah hingga Nota Kosong

Bagaimana Bank DBS Indonesia Menghubungkan Nasabah dengan Peluang Global?

Halaman:

Tags

Terkini