Tegaskan Pentingnya Sikap Terbuka ! Presiden Prabowo Subianto Akui Pemimpin Harus Mau Dikoreksi dan Pengabdian Dijalankan dengan Ikhlas

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 29 Oktober 2025 | 19:16 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat memimpin pemusnahan barang bukti narkoba di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta, Rabu (29/10/2025).  (Kalimantansatu.com/Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto)
Presiden Prabowo Subianto saat memimpin pemusnahan barang bukti narkoba di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Trunojoyo, Jakarta, Rabu (29/10/2025). (Kalimantansatu.com/Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto)

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik dan koreksi dalam menjalankan tugas kenegaraan. Ia menyebut, seorang pemimpin harus mau dikritik dan pengabdian perlu dijalankan dengan ikhlas.

Pernyataan itu disampaikan Presiden dalam pidatonya pada acara Pemusnahan Barang Bukti Narkoba di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Kegiatan ini sekaligus menandai capaian satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto, di mana Polri berhasil menyita 214,84 ton narkotika senilai Rp29,37 triliun dan menangkap 65.572 tersangka dari 49.306 kasus sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2025.

Dalam pidatonya, Prabowo berbicara dengan nada reflektif.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Tekankan 3 Tugas Utama Polri dalam Penegakan Hukum Saat Ini, Apa Saja ?

Ia menegaskan bahwa kritik adalah bagian penting dari demokrasi, dan seorang pemimpin harus siap dikoreksi oleh rakyat maupun media.

"Bersaing bagus, kritik bagus, koreksi harus," kata Prabowo.

"Saya malam-malam suka buka podcast-podcast (kritik) itu, kadang dongkol juga, tapi saya catat," timpalnyam

Ia mengatakan jika mau jadi pemimpin, maka jangan takut difitnah.

Menurut Prabowo, fitnah terhadap seseorang justru merupakan tanda seseorang tersebut diperhitungkan dan ditakuti. Prabowo mengaku mengalaminya sendiri.

"Saya dulu punya guru. Waktu saya masih muda, saya kena fitnah. Dua, tiga kali saya bangun. Saya mengeluh ke guru saya, (dia bilang), ‘jangan berkecil hati, engkau difitnah berarti engkau diperhitungkan. Engkau difitnah berarti engkau ditakuti.’ Loh kok takut sama saya? ‘Berarti kau disuruh hati-hati’,” tuturnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Bilang Boleh Berbeda dan Bersaing ! Tapi Bangsa Indonesia Harus Tetap Satu Keluarga, Tidak Terpecah Belah dan Gotong-royong

Prabowo mengaku kerap mendengar anggapan bahwa dirinya otoriter.

Meskipun tak merasa demikian, kritik itu dia terima.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X