KALIMANTANSATU.COM, PAKISTAN - Protes meletus di seluruh Pakistan pada hari Minggu (1/3/2026) dengan 20 orang tewas dan puluhan lainnya terluka di seluruh negeri.
Indiden tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel mengkonfirmasi pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara terkoordinasi di Teheran.
Korban tewas termasuk 10 orang di Karachi , setidaknya delapan orang di Skardu, dan dua orang di ibu kota, Islamabad, ketika demonstrasi yang sebagian besar dipimpin oleh anggota komunitas Muslim Syiah Pakistan meningkat dan pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah para demonstran.
Pakistan, sebuah negara dengan lebih dari 250 juta penduduk, mayoritas beragama Islam Sunni, tetapi penganut Syiah berjumlah lebih dari 20 persen dari populasi dan tersebar di seluruh negeri.
Di Islamabad, ribuan orang berkumpul di dekat Zona Merah, distrik yang dijaga ketat yang menjadi lokasi parlemen, kantor pemerintahan, dan kedutaan asing.
Para pengunjuk rasa meneriakkan, “Mereka yang berpihak pada AS adalah pengkhianat” dan menyerukan “balas dendam terhadap Israel”.
Sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak, berkumpul di dekat salah satu hotel terbesar di ibu kota, sambil memegang plakat bergambar Khamenei.
Syed Nayab Zehra, seorang demonstran berusia 28 tahun, mengatakan bahwa ia bergabung dalam unjuk rasa bersama keluarganya untuk menyatakan solidaritas dengan rakyat Iran, meskipun “pemerintah kita tidak bersama kalian”.
“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa jangan remehkan kami, kaum Syiah. Kami di sini untuk mengingatkan dunia bahwa kami akan membalas dendam. Kami tidak dapat mengharapkan atau berharap apa pun dari pemerintah kami sendiri, tetapi kami akan membela komunitas kami,” katanya seperti dilansir Al Jazeera.
Pemerintah Pakistan mengutuk serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran yang menewaskan Khamenei.
Mereka juga mengkritik serangan Iran selanjutnya terhadap negara-negara Teluk.
Pada hari Minggu, beberapa orang di kerumunan mendesak para demonstran untuk berarak menuju kawasan diplomatik, sementara yang lain meneriakkan instruksi untuk menjaga "kedisiplinan".
Ali Nawab, seorang pekerja dari Majlis Wahdat-e-Muslimeen, sebuah partai politik Syiah, mengatakan bahwa penyelenggara telah sepakat dengan pihak berwenang setempat untuk menjaga agar protes tetap damai.
Artikel Terkait
Laba Bersih Cimory Tumbuh 33,80% Menjadi Rp2,03 Triliun pada Tahun 2025 ! Bos Cisarua Mountain Dairy (CMRY) Beberkan Capaian Angka Kinerja Positif
ENRG Catat Pertumbuhan 2 Digit pada 2025, Apa Kata Bos Energi Mega Persada ?
Parade Imlek Nusantara Meriahkan Jakarta ! Meski Diguyur Hujan, Masyarakat Sangat Antusias
Ketupat Cap Go Meh Bobon Santoso Jadi Primadona di Imlek Festival 2577 Lapangan Banteng Jakarta
Apa Dampak Perang AS vs Iran bagi Ekonomi Indonesia ? Begini Pendapat Pengamat Ekonomi Noviardi Ferzi
Petani NTT Ucap Syukur, 3.000 Pohon Buncis Terserap Semua Berkat Program MBG
Petani Manggarai NTT Semangat Tanam Sayur : Sejak Ada MBG, Harga Wortel Kami Naik 3 Kali Lipat
Waktu Makin Mepet, Mentan Amran Sulaiman Target Cetak Sawah Rakyat Seluas 101.503 Hektare Dalam Satu Bulan ke Depan : 'Bergerak Cepat, Ini Penentu'
Baru Dibuka ! Cek Syarat Mudik Gratis Dishub Bekasi 2026 dan Ketentuan Cara Daftar di Link mudikbareng.karcisku.id
Mudik Gratis Pertamina 2026 Dibuka Mulai 3 Maret ! Cek Syarat, Rute Tujuan Keberangkatan Hingga Cara Daftar Lewat Link mudikpertamina2026.com