Adakah Potensi Penguatan Nilai Tukar Rupiah ? Analis Nilai Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Oke

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Selasa, 10 Maret 2026 | 18:48 WIB
Ilustrasi uang Rupiah. (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay IqbalStock)
Ilustrasi uang Rupiah. (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay IqbalStock)

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar setelah sempat menyentuh kisaran 17.000 per USD.

Level tersebut dinilai sebagai batas psikologis penting bagi pelaku pasar.

Namun di balik tekanan jangka pendek itu, sejumlah analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat sehingga membuka peluang bagi rupiah untuk kembali menguat ketika gejolak global mereda.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, mengatakan pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding perubahan kondisi ekonomi domestik.

“Rupiah memang sempat diperdagangkan di sekitar 17.000 per dolar AS pagi ini sebelum sedikit stabil di bawahnya. Tekanan ini cukup besar karena 17.000 adalah batas psikologis bagi pasar,” ujar David, Senin (9/3/2026).

Baca Juga: Perang Memanas di Dunia, Presiden Prabowo Subianto Anggap Indonesia Sangat Beruntung Punya SDA: Sawit hingga Jagung Bisa Jadi Sumber Energi Nasional

Menurut dia, pelemahan tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen global, mulai dari penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus lebih dari USD 100 per barel, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini mendorong investor global bersikap lebih berhati-hati.

“Dalam kondisi seperti ini biasanya investor melakukan risk-off dan mengurangi eksposur di emerging markets, termasuk Indonesia. Jadi pergerakan rupiah sekarang lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibanding perubahan fundamental ekonomi domestik,” jelasnya.

David menilai pandangan otoritas moneter bahwa nilai tukar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia memiliki dasar yang kuat.

Beberapa indikator makro menunjukkan ekonomi nasional masih berada pada jalur yang relatif stabil.

Inflasi, misalnya, masih berada dalam kisaran sasaran sekitar 2,5 persen untuk periode 2026–2027.

Baca Juga: Kasad Maruli Simanjuntak Launching 11 Jembatan Gantung di Aceh, Buka Akses Wilayah Terisolasi Pascabencana Banjir dan Tanah Longsor

Di sektor keuangan, penyaluran kredit perbankan pada Januari 2026 tercatat tumbuh sekitar 9,96 persen secara tahunan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 5,11 persen.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X