Gus Miftah Bagikan Buku Kebinekaan ke 200 Tokoh Lintas Agama di Gereja Sleman, Ajak Lawan Intoleransi

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Selasa, 10 Maret 2026 | 09:56 WIB
Gus Miftah hadir dalam kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan bersama 200 tokoh lintas agama digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu, 7 Maret 2026. (Kalimantansatu.com/Dok. IST)
Gus Miftah hadir dalam kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan bersama 200 tokoh lintas agama digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu, 7 Maret 2026. (Kalimantansatu.com/Dok. IST)

KALIMANTANSATU.COM – Kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan bersama 200 tokoh lintas agama digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Kegiatan ini digelar dalam rangka merawat kebhinekaan serta menyemai kerukunan di tengah masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh, mulai dari tokoh Islam Gus Miftah Maulana Habiburrahman hingga Danrem 072 Pamungkas Brigjen TNI Bambang Sujarwo.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 buku karya Miftah Maulana Habiburrahman berjudul "Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan" dibagikan kepada para peserta yang hadir.

Buku Gus Miftah ini terinspirasi dari kegelisahan mendalamnya terhadap kondisi kebangsaan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai peristiwa intoleransi dinilai telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Baca Juga: Sebarkan Berkah Ramadan 1447 H, Ponpes Ora Aji Asuhan Gus Miftah Gelar Buka Bersama untuk 2.000 Anak Yatim Lintas Iman hingga Bagi-bagi Hampers

Misalnya, perusakan rumah ibadah, penolakan terhadap pembangunan gereja, pelarangan ritual dan perayaan keagamaan minoritas, hingga ujaran kebencian di media sosial yang menjadi fenomena berulang.

Dalam buku tersebut, persoalan itu menjadi poin penting yang dibahas. Sebuah tanda tanya besar muncul: mengapa bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika masih bergumul dengan luka intoleransi yang tak kunjung sembuh?

Gus Miftah dalam bukunya mengajak pembaca untuk berefleksi terhadap berbagai kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Menurutnya, intoleransi muncul dalam berbagai bentuk, terkadang sebagai serangan fisik, kebijakan publik yang diskriminatif, hingga komentar penuh kebencian di media sosial.

"Saya percaya bahwa kerukunan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan oleh semua elemen bangsa, tokoh agama, masyarakat sipil, dan individu warga negara. Tanpa perlawanan kolektif terhadap intoleransi, kita akan kehilangan rumah besar bernama Indonesia, yang seharusnya menjadi tempat aman bagi siapa pun untuk hidup dan beribadah sesuai keyakinannya," tegas Gus Miftah.

Baca Juga: Gus Miftah Anggap MBG Program Baik, tapi Pengelolaannya Kurang Bagus : 'Salahnya yang Diperbaiki, Bukan Programnya Dihentikan'

Ia juga menekankan pentingnya kerukunan, harmoni, inklusivitas, serta literasi toleransi. Banyak orang tidak menyadari bahwa ujaran kebencian yang dilontarkan di dunia maya dapat memicu konflik di dunia nyata.

Karena itu, literasi digital tentang toleransi perlu diajarkan sejak dini di sekolah maupun keluarga agar generasi muda menjadi agen perdamaian, bukan penyebar kebencian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X