[KOLOM OPINI] Istana Ganti Komando Komunikasi: Pemerintah Lawan Algoritma, Tidak Bisa Hanya Andalkan Segelintir Media Besar !

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Selasa, 28 April 2026 | 19:33 WIB
CEO Promedia Group Agus Sulistriyono (Kalimantansatu.com/Dok. Promedia Group)
CEO Promedia Group Agus Sulistriyono (Kalimantansatu.com/Dok. Promedia Group)

Ditulis oleh : Agus Sulistriyono
(CEO Promedia Group)

KALIMANTANSATU.COM - Setiap kali komando komunikasi di Istana berubah, publik seperti diajak percaya bahwa masalahnya ada pada orangnya.

Seolah-olah cukup ganti kepala, ganti juru bicara, ganti wajah, lalu semuanya akan membaik.

Padahal kenyataannya jauh lebih pahit: yang bermasalah bukan siapa yang bicara, tapi bagaimana negara ini berbicara.

Hari ini diganti lagi. Kemarin juga begitu. Dan mungkin besok akan terulang.

Tapi satu hal tidak pernah berubah: komunikasi pemerintah selalu datang terlambat, kaku, dan terasa seperti berbicara dari menara gading. Sementara di luar sana, opini publik sudah dibentuk lebih dul: cepat, emosional, dan viral.

Masalahnya sederhana tapi sering diabaikan: pemerintah masih merasa sedang berhadapan dengan oposisi politik. Padahal di era sekarang, lawan utamanya bukan lagi manusia, melainkan algoritma.

Baca Juga: [KOLOM OPINI] Dialog Kenegaraan Presiden Prabowo: Simbol Persatuan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

Algoritma tidak peduli jabatan. Tidak peduli struktur birokrasi. Ia hanya bekerja berdasarkan satu hal: perhatian. Siapa yang paling cepat menarik perhatian, dia yang menang. Siapa yang paling relevan dengan emosi publik, dia yang didengar. Dan di medan ini, negara sering kali kalah telak.

Ketika sebuah isu muncul, publik tidak menunggu klarifikasi resmi. Mereka sudah lebih dulu melihat versi lain- potongan video, narasi pendek, headline provokatif - yang menyebar dalam hitungan menit. Sementara pemerintah masih sibuk menyusun rilis, menunggu persetujuan, atau memilih diksi yang terlalu aman. Hasilnya? Narasi sudah kalah sebelum pemerintah sempat berbicara.

Inilah akar persoalannya: negara masih bermain di logika komunikasi lama- rapi, formal, satu arah - di saat publik sudah hidup dalam ekosistem baru yang cepat, cair, dan berbasis algoritma.

Mengganti orang tanpa mengubah sistem hanya akan menghasilkan pola yang sama. Hari ini ganti kepala, besok ganti strategi sesaat, lalu kembali lagi ke kebiasaan lama. Ini bukan soal siapa yang duduk di kursi komunikasi. Ini soal apakah negara mau mengubah cara berpikirnya.

Baca Juga: [KOLOM OPINI] Bonus Hari Raya, Wujud Kehadiran Negara Menjaga Keseimbangan

Kalau ingin menang, pemerintah harus berhenti sekadar “menjelaskan”, dan mulai belajar “mendistribusikan perhatian”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X