Ditulis oleh : Agus Sulistriyono
(CEO Promedia Group)
KALIMANTANSATU.COM - Setiap kali komando komunikasi di Istana berubah, publik seperti diajak percaya bahwa masalahnya ada pada orangnya.
Seolah-olah cukup ganti kepala, ganti juru bicara, ganti wajah, lalu semuanya akan membaik.
Padahal kenyataannya jauh lebih pahit: yang bermasalah bukan siapa yang bicara, tapi bagaimana negara ini berbicara.
Hari ini diganti lagi. Kemarin juga begitu. Dan mungkin besok akan terulang.
Tapi satu hal tidak pernah berubah: komunikasi pemerintah selalu datang terlambat, kaku, dan terasa seperti berbicara dari menara gading. Sementara di luar sana, opini publik sudah dibentuk lebih dul: cepat, emosional, dan viral.
Masalahnya sederhana tapi sering diabaikan: pemerintah masih merasa sedang berhadapan dengan oposisi politik. Padahal di era sekarang, lawan utamanya bukan lagi manusia, melainkan algoritma.
Algoritma tidak peduli jabatan. Tidak peduli struktur birokrasi. Ia hanya bekerja berdasarkan satu hal: perhatian. Siapa yang paling cepat menarik perhatian, dia yang menang. Siapa yang paling relevan dengan emosi publik, dia yang didengar. Dan di medan ini, negara sering kali kalah telak.
Ketika sebuah isu muncul, publik tidak menunggu klarifikasi resmi. Mereka sudah lebih dulu melihat versi lain- potongan video, narasi pendek, headline provokatif - yang menyebar dalam hitungan menit. Sementara pemerintah masih sibuk menyusun rilis, menunggu persetujuan, atau memilih diksi yang terlalu aman. Hasilnya? Narasi sudah kalah sebelum pemerintah sempat berbicara.
Inilah akar persoalannya: negara masih bermain di logika komunikasi lama- rapi, formal, satu arah - di saat publik sudah hidup dalam ekosistem baru yang cepat, cair, dan berbasis algoritma.
Mengganti orang tanpa mengubah sistem hanya akan menghasilkan pola yang sama. Hari ini ganti kepala, besok ganti strategi sesaat, lalu kembali lagi ke kebiasaan lama. Ini bukan soal siapa yang duduk di kursi komunikasi. Ini soal apakah negara mau mengubah cara berpikirnya.
Baca Juga: [KOLOM OPINI] Bonus Hari Raya, Wujud Kehadiran Negara Menjaga Keseimbangan
Kalau ingin menang, pemerintah harus berhenti sekadar “menjelaskan”, dan mulai belajar “mendistribusikan perhatian”.
Artikel Terkait
[KOLOM OPINI] Bonus Hari Raya, Wujud Kehadiran Negara Menjaga Keseimbangan
Optimisme PTPP Rampungkan Proyek Sekolah Rakyat Aceh Tepat Waktu, Kini Progres Pembangunan Sudah 39,02%
Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur Terjadi saat Jam Pulang Kerja, Timbulkan Rasa Cemas bagi Para Pejuang 'Rush Hour'
Batu Creative Hub Dipercaya Sebagai Pengelola Program Perintis Berdaya Connect di Kota Batu
Taksi Green SM Dilaporkan Masih Tergeletak pada Perlintasan Rel, Diduga Jadi Penyebab Awal Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi
Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi: Presiden Prabowo Instruksikan Benahi 1.800 Perlintasan Sebidang untuk Cegah Lakalantas
Investigasi Krusial ! Presiden Prabowo Minta Penanganan Maksimal Korban Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi
Alasan Menteri PPPA Usul Pemindahan Gerbong Perempuan ke Tengah Rangkaian KRL Setelah Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur
Cerita Penumpang KRL Sebelum Terjadi Kecelakaan dengan Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Tubuh Terbanting dan Terseret
Detik-detik Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur Terekam Jelas pada Siaran Live YouTuber dari Dalam
Tak Hanya Kecelakaan di Bekasi Timur, Ini 5 Insiden Viral Taksi Listrik Green SM ! Terbaru Disebut Jadi Efek Domino KA Agro Bromo Anggrek vs KRL