Sudah Saatnya Pemerintah Rangkul Media Karena Lebih Dipercaya Rakyat, Bukan Influencer yang Terkadang Blunder dan Bikin Tambah Gaduh

photo author
Mas Abo Real, Kalimantan Satu
- Selasa, 2 September 2025 | 15:27 WIB
Potret aksi demo di area Gedung DPR dan MPR RI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 28 Agustus 2025. (Kalimantansatu.com/Dok. Harianterbit.com by Aldi Tsaqif)
Potret aksi demo di area Gedung DPR dan MPR RI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 28 Agustus 2025. (Kalimantansatu.com/Dok. Harianterbit.com by Aldi Tsaqif)

KALIMANTANSATU.COM - Sedang ramai menuai sorotan sebagian publik Tanah Air terkait pengakuan influencer kenamaan di Indonesia, Jerome Polin yang mengungkap terkait tawaran yang diduga untuk menjadi buzzer untuk meredam aksi unjuk rasa masyarakat terhadap Parlemen RI.

Lewat akun Instagram pribadinya, @jeromepolin yang diposting pada 29 Agustus 2025, Jerome menampilkan tangkapan layar ajakan membuat narasi damai yang disebut melibatkan pemerintah, DPR, Korps Brigade Mobil (Brimob), hingga ojol.

“Ini (terkait) buat narasi untuk pencitraan seolah semua baik-baik saja. Jangan sampai lengah, jangan terpecah belah, kawal terus,” tulis influencer tersebut.

Baca Juga: Bukan ke Influencer ! Analis Komunikasi Politik Bilang Prabowo Subianto Perlu Intens Bicara ke Media untuk Meredakan Kegelisahan Publik

Unggahan ini langsung viral dan memunculkan spekulasi terkait pemerintah yang dinilai lebih memilih buzzer ketimbang media massa untuk meredam aksi unjuk rasa tersebut.

Fenomena ini lantas mendorong beberapa tokoh masyarakat hingga pakar komunikasi yang mengingatkan agar pemerintah harusnya lebih merangkul media massa ketimbang influencer dalam menjaga komunikasi dengan masyarakat.

Terlebih, sebagian pakar menyoroti pola lama yang dinilai banyak mengandalkan buzzer dalam agenda politik pemerintah.

Berikut ini sederet penuturan menurut pakar ahli hingga akademisi di Indonesia:

Kritik dari Pakar Komunikasi

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie mengingatkan agar Presiden Prabowo tidak mengulangi pola lama di era Jokowi yang banyak mengandalkan buzzer.

“Tak bisa dipungkiri era Presiden Jokowi banyak menggunakan buzzer dan influencer,” kata Jerry dalam pernyataannya, pada 31 Agustus 2025.

Menurutnya, komunikasi publik yang kredibel seharusnya dilakukan langsung oleh pejabat negara atau melalui media yang memiliki mekanisme verifikasi.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus Rp362,8 Triliun hingga Juli 2025 ! BPS Ungkap Komoditas Surplus Terbesar dan Defisit

Minimnya Strategi Komunikasi Publik

Pengamat komunikasi politik di Universitas Padjadjaran (UNPAD), Kunto Adi Wibowo juga pernah menilai komunikasi publik Prabowo-Gibran belum jelas arah strateginya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mas Abo Real

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X