Menelisik Awal Mula Gejolak Demonstrasi di Kathmandu Nepal, dari Skandal Korupsi hingga Larangan Main Medsos

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 10 September 2025 | 22:14 WIB
Menelisik awal mula gejolak aksi demonstrasi berujung ricuh di Kathmandu, Nepal. (Kalimantansatu.com/Dok. vermelho.org.br)
Menelisik awal mula gejolak aksi demonstrasi berujung ricuh di Kathmandu, Nepal. (Kalimantansatu.com/Dok. vermelho.org.br)

KALIMANTANSATU.COM - Aksi demonstrasi besar-besaran di Kathmandu, berakhir ricuh dengan serangan terhadap gedung parlemen Pemerintah Nepal, pada Rabu, 10 September 2025.

Pasukan militer Nepal melaporkan setidaknya 27 orang ditangkap dalam kerusuhan yang berlangsung sejak Selasa, 9 September 2025 hingga Rabu, 10 September 2025 pagi hari waktu setempat.

Dalam aksi itu, sejumlah oknum dituduh telah melakukan penjarahan, pembakaran, dan aksi anarkis lain di Kathmandu serta sejumlah wilayah lain.

“Uang tunai hasil jarahan sebesar NPR 3,37 juta (setara Rp393 juta), berhasil kami sita dari para tersangka,” ungkap pernyataan resmi Angkatan Darat Nepal yang dikutip dari The Himalayan Times, pada Rabu, 10 September 2025.

Baca Juga: Ironi Ketimpangan Sosial dan Ekonomi di Balik Kekacauan Demo Nepal, 10 Persen Orang Kaya Berpenghasilan 3x Lipat Warga Miskin

Kericuhan juga menyebabkan korban luka. Sedikitnya 24 anggota kepolisian Nepal dan tiga warga sipil dirawat di rumah sakit militer akibat bentrokan dengan demonstran.

Aparat pun mengerahkan 3 unit mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan api di berbagai lokasi demonstrasi.

Usut punya usut, aksi ini diduga dipicu oleh kemarahan masyarakat atas skandal korupsi hingga kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan media sosial. Begini awal mulanya:

Aksi Revolusi Gen Z Imbas Larangan Main Medsos

Pada Selasa, 9 September 2025, diketahui terdapat aksi yang dijuluki “Revolusi Gen Z” ini melibatkan ribuan generasi muda di Nepal.

Mereka menuntut perubahan politik, pemberantasan korupsi, serta pencabutan blokir media sosial. Namun, aksi berubah menjadi tragedi setelah aparat menggunakan gas air mata, meriam air, bahkan peluru tajam.

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Akan Masuk Prolegnas 2025 dan Dibahas DPR, Publik Diminta Aktif Kawal Isi Bukan Cuma Tahu Judul

Akibat bentrokan itu, sedikitnya 22 orang dilaporkan tewas. Gedung parlemen hingga hotel Hilton di Kathmandu menjadi sasaran amukan massa.

Situasi memanas hingga akhirnya Perdana Menteri Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Paudel memilih mengundurkan diri dari jabatannya.

Salah satu pemicu utama aksi protes ini adalah larangan pemerintah terhadap 26 platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, dan X.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X