Kontroversial Menag Nasaruddin Umar Anggap Isu Kekerasan Seksual di Pesantren Terlalu Dibesar-besarkan, Akankah Kurikulum Anti Pencabulan Jadi Solusi?

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Selasa, 28 Oktober 2025 | 18:41 WIB
Menyoroti pernyataan influencer, Pandji Pragiwaksono terkait isu kekerasan seksual yang dinilai Menag Nasaruddin Umar terlalu dibesar-besarkan. (Kalimantansatu.com/Dok. YouTube PandjiPragiwaksono, Instagram @kemenag_ri)
Menyoroti pernyataan influencer, Pandji Pragiwaksono terkait isu kekerasan seksual yang dinilai Menag Nasaruddin Umar terlalu dibesar-besarkan. (Kalimantansatu.com/Dok. YouTube PandjiPragiwaksono, Instagram @kemenag_ri)

KALIMANTANSATU.COM - Pernyataan kontroversial Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang menyebut isu kekerasan seksual di pondok pesantren terlalu dibesar-besarkan menuai sorotan publik.

Sebelumnya, Menag Nasaruddin menyatakan jumlah kasus kekerasan seksual di pesantren sebenarnya sedikit, namun menjadi besar karena pemberitaan di berbagai platform media.

Terkini, pandangan ini langsung memicu perdebatan, terutama dari kalangan aktivis perlindungan anak dan tokoh publik.

Ucapannya dianggap tidak sensitif terhadap banyaknya kasus pelecehan di lingkungan pendidikan berbasis agama.

Salah satu yang lantang menanggapi hal tersebut adalah influencer, Pandji Pragiwaksono melalui kanal YouTube pribadinya, pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Baca Juga: Thrifting di Ujung Tanduk: Menkeu Purbaya Tegaskan Aksi Sikat Mafia Baju Bekas dan Bakal Tambah Denda ! Anggap Suara Penolakan Justru sebagai Sinyal

Pandji menilai, pernyataan Menag sama sekali tidak masuk akal.

“Menteri Agama, Nasaruddin Umar membuat pernyataan yang sampai sekarang masih dibahas oleh banyak pihak. Beliau bilang media membesarkan berita tentang kekerasan seksual yang terjadi di pesantren,” ujar Pandji.

“Ini membuat gusar banyak orang. Kita sebagai masyarakat mendengar pernyataan itu kok, agak tidak masuk akal," imbuhnya.

Berkaca dari hal itu, pernyataan Pandji menyiratkan sorotan sebagian publik yang mencemaskan tentang meningkatnya laporan kekerasan terhadap santri dalam beberapa tahun terakhir.

Terlebih dalam banyak kasus, korban justru kesulitan bersuara karena faktor ketimpangan kuasa dan budaya tutup mulut di lingkungan pesantren. Berikut ini ulasannya.

Sorotan Pandji Pragiwaksono

Pandji menyoroti salah satu kasus besar yang sempat mengguncang publik, yakni pelecehan terhadap 20 santriwati di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Desember 2024.

Menurutnya, satu kasus dengan jumlah korban sebanyak itu sudah cukup menunjukkan betapa seriusnya persoalan ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X