Pada Triwulan II Tahun 2026, ekonomi Kalbar mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen (year-on-year).
Capaian ini disokong oleh beberapa sektor utama:
- Pengadaan Listrik dan Gas: tumbuh 12,71%
- Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum: tumbuh 11,11%
- Pertambangan dan Penggalian: tumbuh 10,60%
- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: tumbuh 5,89% (sebagai sektor dominan)
Potensi Komoditas dan Bahan Baku Unggulan
Kalbar tercatat menguasai sekitar 46 jenis produk dan komoditas unggulan di sektor perkebunan, kelautan, hortikultura, kehutanan, hingga peternakan.
Pada sektor hortikultura, produksi tahunan Kalbar mencakup pisang (129.805 kuintal), nanas (110.765 kuintal), jeruk (109.540 kuintal), dan durian (40.533 kuintal).
“Beberapa di antaranya memiliki produksi yang cukup besar, seperti pisang sekitar 129.805 kuintal, nanas 110.765 kuintal, jeruk 109.540 kuintal, dan durian sekitar 40.533 kuintal per tahun. Sebagian komoditas tersebut bahkan telah memiliki pasar di luar daerah dan peluang ekspor, termasuk ke Malaysia,” ungkap Norsan.
Di sektor perikanan dan kelautan, Kalbar menghasilkan udang hingga 27.422 ton per tahun, diikuti ikan kembung (15.261 ton), tenggiri (12.491 ton), dan tongkol (12.448 ton).
Melalui investasi dan program hilirisasi, potensi ini sangat siap diolah menjadi produk bernilai tambah.
Selain itu, Kalbar menghasilkan kelapa sebanyak 630 ribu ton per tahun yang berpeluang diolah menjadi briket arang, coco peat, dan coco fiber.
Sektor kehutanan turut menyumbang kayu Hutan Tanaman Industri (HTI) mencapai 960 ribu ton per tahun.
Adapun komoditas kratom kini terus didorong tata niaga dan tata kelolanya agar berkelanjutan sesuai regulasi yang berlaku.
Sinergi Industri dan Logistik dengan Jawa Timur
Mengingat Jawa Timur memiliki ekosistem manufaktur, jaringan distribusi, serta infrastruktur pelabuhan yang solid, Norsan memandang Jatim sebagai mitra ideal bagi percepatan ekonomi Kalimantan Barat.
“Kalimantan Barat memiliki bahan baku, produk, pelaku usaha, dan ekonomi yang terus tumbuh. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menghubungkan potensi tersebut dengan pasar, investasi, teknologi, dan mitra usaha yang tepat. Dan saya melihat, Jawa Timur merupakan salah satu mitra yang sangat strategis untuk itu,” katanya.
Artikel Terkait
Strategi Mengatasi House Poor: Saat Cicilan Rumah Mencekik Arus Kas! Ketahui Mengapa dan Apa Tanda-Tanda Terjebak Kondisi House Poor
Mengenal Mekanisme Penjaminan LPS: Berapa Batas Aman Simpanan Anda di Bank ? Apakah BPR dan Bank Digital Juga Dijamin ?
Investasi Saham Blue Chip vs Growth Stock untuk Pemula: Mana Lebih Ideal? Kenali Karakteristik Utama, Perbandingan Langsung Hingga Strategi Kombinasi
MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 Umumkan Daftar Pemenang ! Bakal Wakili Indonesia ke Kompetisi Tingkat Regional di Asia Tenggara
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29% di Q2 2026, Pemerintah Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun demi Jaga Momentum, Qodari Beberkan Intervensi Kebijakan
Layanan Haji 2026 Dipuji Jemaah, BPS Catat Indeks Kepuasan Tembus Kategori Sangat Memuaskan, Bakom RI: Komitmen Transformasi Terus Berlanjut
Kemenbud Pulangkan Lima Artefak Papua dari AS, Hasil Repatriasi Artefak Bakal Dipajang di Museum Nasional, Begini Kata Fadli Zon
Stabilitas Keamanan Nasional Mantap Jelang HUT ke-81 RI, Bakom RI Minta Masyarakat Bijak Bermedsos, Qodari: Waspadai Disinformasi di Ruang Digital
Kinerja dan Popularitas Mentereng, Seskab Teddy Indra Wijaya Masuk 3 Besar Pejabat Berkinerja Terbaik versi Hasil Survei IPO
Sinergi Jatim-Kalbar: Strategi Khofifah dan Dekranasda Bawa Produk Lokal Naik Kelas, Dorong Kolaborasi UMKM