[KOLOM OPINI] Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:30 WIB
[KOLOM OPINI] Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji (Dok. Agus Sulistriyono via AI)
[KOLOM OPINI] Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji (Dok. Agus Sulistriyono via AI)

Tentu pers berbeda. Jurnalisme mempunyai verifikasi, kode etik, tanggung jawab dan disiplin profesi. Nilai-nilai itu tidak boleh dibuang hanya karena zaman berubah. Justru di situlah kekuatan pers. Tetapi industri pers juga jangan terjebak merasa paling berhak disebut media.

Masyarakat ketika membuka TikTok atau YouTube tidak selalu bertanya apakah sebuah informasi dibuat oleh perusahaan pers atau seorang creator. Mereka lebih sering bertanya: menarik atau tidak, berguna atau tidak, dan yang paling penting, bisa dipercaya atau tidak. Maka pertarungan media hari ini bukan lagi semata-mata soal siapa paling cepat membuat berita.

Pertarungannya adalah attention dan trust. Creator sering unggul dalam attention. Pers seharusnya unggul dalam trust. Kalau dua kekuatan itu bisa dipertemukan, justru di situlah masa depan media. Karena itu saya tidak melihat creator sebagai musuh wartawan. Saya juga tidak melihat media sosial sebagai musuh perusahaan pers.

Yang harus berubah adalah cara kita melihat industri ini. Wartawan masa depan mungkin tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus mampu membuat video, berbicara di depan kamera, memahami algoritma, membangun komunitas dan memiliki audiensnya sendiri. Tetapi ia membawa sesuatu yang tidak boleh hilang: disiplin jurnalistik.

Sebaliknya, perusahaan pers tidak bisa selamanya menggantungkan hidup pada traffic website dan banner advertising. Ia harus mulai membangun ekosistem: publisher, creator, video, podcast, komunitas, event, social media, live commerce, creative services, data, bahkan berbagai model transaksi baru.

Bukan berarti pers berubah menjadi pedagang. Justru bisnis yang sehat diperlukan agar redaksi tidak selalu hidup dalam ketergantungan. Kita juga harus berhenti menganggap bisnis sebagai kata kotor dalam dunia pers. Media yang tidak mempunyai bisnis yang sehat justru lebih mudah kehilangan independensinya.

Ketika pendapatan tidak cukup, selalu ada risiko bergantung kepada pemilik modal, pemerintah, pengiklan, kepentingan politik atau siapa pun yang bersedia membiayainya. Karena itu idealisme dan bisnis seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua musuh yang saling berhadapan.

Idealisme menghasilkan sesuatu yang sangat mahal dalam industri media: kepercayaan. Kepercayaan melahirkan audiens. Audiens melahirkan pengaruh. Dan pengaruh sebenarnya mempunyai nilai ekonomi. Masalahnya, banyak media belum berhasil mengubah rantai tersebut menjadi model bisnis yang sehat.

Jadi mungkin yang gagal bukan idealismenya. Yang gagal adalah model bisnis yang belum mampu mengubah kepercayaan menjadi keberlanjutan. Inilah persimpangan media hari ini. Kita tidak perlu mengurangi idealisme agar bisnis tumbuh. Tetapi kita juga tidak bisa terus meneriakkan idealisme sambil membiarkan perusahaan pers perlahan-lahan kehabisan napas.

Sebab pada akhirnya wartawan tetap harus membawa pulang gaji. Perusahaan tetap harus membayar tagihan. Dan jurnalisme berkualitas tetap membutuhkan biaya. Masa depan pers karena itu bukan memilih antara idealisme atau bisnis.

Tantangannya jauh lebih besar: bagaimana membuat idealisme menjadi fondasi bisnis yang berkelanjutan, tanpa pernah menjual idealismenya.

DISCLAIMER: Konten ini merupakan POV dan menjadi tanggung jawab penulis

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

[KOLOM OPINI] Simalakama AI Untuk Media Massa

Minggu, 28 September 2025 | 19:09 WIB
X