KALIMANTANSATU.COM - Kejahatan social engineering di sektor perbankan memanfaatkan manipulasi emosi.
Kepanikan atau rasa tergiur misalnya, termasuk emosi yang kerap menjadi sasarannya.
Kejahatan social engineering bukan melulu meretas sistem bank secara langsung.
Modus yang kerap dijumpai diantaranya pelaku umumnya berpura-pura menjadi petugas resmi untuk meminta data sensitif seperti OTP, PIN, atau kata sandi.
Apa Itu Kejahatan Social Engineering Perbankan ?
Social engineering adalah teknik penipuan yang memanfaatkan interaksi manusia untuk memanipulasi korban agar menyerahkan informasi rahasia perbankan.
5 Ciri Utama Penipuan Rekayasa Sosial
Sebagai nasabah perbankan, sudah seharusnya mengetahui ciri utama penipuan rekayasa sosial diantaranya :
- Menciptakan Rasa Panik Palsu: Mengklaim ada transaksi mencurigakan atau pembekuan rekening secara tiba-tiba.
- Iming-iming Hadiah/Tarif Murah: Mengaku menawarkan perubahan tarif transfer yang lebih murah atau tawaran undian berhadiah.
- Mengaku Petugas Resmi: Memakai logo, foto profil, dan bahasa formal yang meniru bank terkait.
- Meminta Kode OTP/PIN/Password: Meminta data verifikasi yang seharusnya bersifat rahasia pribadi.
- Mengirim Link/File APK Palsu: Mengarahkan korban untuk mengeklik tautan asing atau mengunduh aplikasi di luar toko resmi.
4 Langkah Utama Perlindungan Diri
Sudah banyak yang menjadi korban dari kejahatan Social Engineering Perbankan.
Berikut ini cara melindungi diri dari kejahatan Social Engineering Perbankan :
- Jangan Bagikan OTP dan PIN: Bank tidak pernah meminta OTP, PIN, atau password akun nasabah.
- Verifikasi Lewat Kanal Resmi: Abaikan pesan dari nomor pribadi dan hubungi call center resmi bank Anda.
- Matikan Izin Instalasi Luar: Jangan unduh file format .apk dari aplikasi pesan singkat.
- Aktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA): Gunakan fitur keamanan biologis (biometric) atau PIN ganda pada aplikasi mobile banking.
(Prabu Warah)