Ahli Keuangan Syariah Buka Suara soal Kritik Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Soal Biaya Perbankan Syariah Cenderung Lebih Mahal dari Bank Konvensional

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 18:47 WIB
Ilustrasi bank syariah. (Prod. Kalimantansatu.com via Gemini AI)
Ilustrasi bank syariah. (Prod. Kalimantansatu.com via Gemini AI)

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Pernyataan menohok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengkritik praktik perbankan syariah beberapa waktu lalu menjadi perbincangan hangat di kalangan kaum ekonom.

Namun, kritik Purbaya soal biaya perbankan syariah di Indonesia justru cenderung lebih mahal dibandingkan perbankan konvensional, belum benar-benar membuat kegaduhan ditengah masyarakat.

Ahli Keuangan Syariah, Jamil Abbas justru merespons positif pernyataan Menkeu Purbaya tersebut. Ia menilai kritik tersebut sebagai pengingat agar semua pihak dapat mengkaji kembali keuangan syariah.

Baca Juga: Satgas PKH Diminta Turun Tangan ! Kelompok Pegiat Anti Korupsi Endus Aroma Pelanggaran Hukum Pada Proses Lahan Kompensasi PT BSI

Jamil juga menjelaskan bahwa tidak ada dasar dalam fokus keuangan syariah yang menetapkan bahwa harus lebih murah daripada perbankan konvensional.

"Tidak ada dalil yang menyatakan keuangan syariah itu harus murah tapi harus adil, jadi yang paling penting bukan mahal atau murah tapi adilnya, kan tidak berarti barang murah pasti lebih baik ya." katanya saat dihubungi media, Minggu, 22 Februari 2026.

Namun, ia menekankan bahwa unsur keadilan dalam keuangan syariah juga perlu diteliti terutama oleh para akademisi yang kredibel, apakah unsur keadilan terpenuhi atau tidak.

"Mahal murah menurut saya nomor dua, tapi adil impact manfaat itu yang perlu dipastikan" sebutnya.

"Jadi saya merespons pernyataan Pak Purbaya itu momen supaya berbagai pihak terutama yang pro terhadap keuangan syariah juga mengkaji kembali, inikan reminder ya, dari seorang tokoh, saya juga tidak bilang pendapat Pak Purbaya itu benar atau salah, tapi ini sebuah reminder untuk kita mereview kembali pelaksanaan keuangan syariah saat ini." sambungnya.

Baca Juga: Begini Pandangan Dunia Usaha Soal Perjanjian Indonesia-Amerika Serikat ! Kopi hingga Minyak Goreng dari Indonesia Bisa Makin Mendunia

Ahli keuangan syariah itu juga mengaku heran dengan klaim "mahal" dari berbagai pihak terhadap keuangan syariah, yang secara umum digambarkannya merujuk pada harga pembiayaan atau kredit.

"Justru yang saya herannya berbagai pihak sering komplain tentang keuangan syariah mahal. Padahal, mereka harus ingat dong, perbankan itukan posisinya intermediari, kok saya heran semuanya berpendapat harus murah, harus murah. Bagaimana dengan nasib para penabung dan deposan, kan harus adil" bebernya.

Menurutnya, jika tekanan harus murah terus berlanjut, hal itu akan berdampak pada nasib para penabung dan deposan yang harus menerima bagi hasil yang minim.

"Kalo seandainya tekanan terus murah, terus murah, berarti penabung, deposan harus bersedia bagi hasil sangat rendah, padahal bisa jadi penerima pembiayaan pengusaha besar, untung besar terus para deposan dapatnya kecil apakah itu baik?" kata Jamil.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X