Tahun 2025, Kinerja Pasar Modal Indonesia Ditutup Solid ! Jumlah Investor Meningkat, IHSG Tren Positif

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Jumat, 2 Januari 2026 | 07:25 WIB
Ilustrasi IHSG tren positif sepanjang tahun 2025 (Kalimantansatu.com via Gemini AI)
Ilustrasi IHSG tren positif sepanjang tahun 2025 (Kalimantansatu.com via Gemini AI)

IHSG Tren Positif

Selama tahun 2025, pasar modal Indonesia bergerak dinamis dan menunjukkan tren positif seiring dengan perkembangan kondisi global maupun domestik.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat sebesar 22,10% secara year-to-date pada level 8.644,26 pada Senin (29/12/2025).

Kemudian, sepanjang tahun 2025 data perdagangan mulai mengalami kenaikan dibandingkan akhir tahun lalu dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) berada pada posisi Rp18,06 triliun.

Data tersebut diikuti dengan volume transaksi harian sebesar 30,27 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi harian mencapai 1,78 juta kali transaksi.

Aktivitas perdagangan di sepanjang tahun 2025 juga mencatatkan beberapa rekor baru yang mencapai 24 kali all-time high, diikuti dengan rekor kapitalisasi pasar tertinggi yang mencapai Rp16 ribu triliun.

Hingga 29 Desember 2025, perdagangan surat utang melalui Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) mencatatkan rata-rata volume transaksi harian sebesar Rp6,52 triliun.

Sementara itu untuk perdagangan produk nonsaham, nilai transaksi telah mencapai Rp7,65 triliun.

Sedangkan untuk unit karbon, telah tercatat sebanyak 2,89 juta ton CO2 ekuivalen unit karbon dari 9 proyek dengan nilai transaksi mencapai Rp30,12 miliar.

Baca Juga: Kenali Akad-akad Dalam Transaksi Bank Syariah yang Harus Dipahami oleh Umat Islam, Salah Satunya Mudharabah

Guna menjaga momentum pertumbuhan, BEI bersama SRO dengan dukungan OJK dan para pemangku kepentingan, terus mengembangkan berbagai produk, layanan, serta inisiatif strategis.

Sepanjang tahun 2025, pengembangan tersebut meliputi Perdagangan Internasional Perdana Unit Karbon Indonesia melalui IDXCarbon pada 20 Januari 2025, Peluncuran Kontrak Berjangka Indeks Asing (KBIA) pada 25 Februari 2025, Peluncuran SPPA Repo dan Waran Terstruktur Tipe Put pada 10 Maret 2025, Penyesuaian Auto Rejection Bawah dan Trading Halt pada 8 April 2025, Perluasan Underlying Saham Waran Terstruktur pada 2 Mei 2025, Penyediaan Infrastruktur Liquidity Provider Saham pada 8 Mei 2025, Penambahan Underlying Single Stock Futures (SSF) pada 11 Juli 2025, Penyempurnaan Format Distribusi Data (termasuk diseminasi Kode Domisili Investor) pada 25 Agustus 2025, Peluncuran Indonesia–Singapore Unsponsored Depository Receipts Linkage dengan Saham Blue-Chip sebagai Underlying pada 16 Oktober 2025, S&P Dow Jones Indices dan BEI berkolaborasi meluncurkan Indeks Co-Branded Baru pada 3 November 2025, Grand Launching Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) Repurchase Agreement (Repo) dan Inaugurasi Penyerahan Izin Operasional Penyedia Electronic Trading Platform (ETP) Antarpasar pada 1 Desember 2025, serta Implementasi Non-Cancellation Period pada 15 Desember 2025.

Baca Juga: Harus Menjadi Koridor ! Ketahui 4 Prinsip Operasional Bank Syariah Sesuai Tuntunan Ekonomi Umat

Menyambut tahun 2026, BEI juga telah menetapkan sejumlah target pencapaian, yaitu pertumbuhan jumlah investor sebanyak 2 juta investor baru, RNTH mencapai Rp15 triliun per hari, dan total jumlah pencatatan efek baru di pasar modal mencapai 555 efek baru meliputi dari efek saham, obligasi/sukuk, Kontrak Investasi Kolektif (KIK) baru yang mencatatkan DIRE/DIRE Syariah, DINFRA, ETF, KIK-EBA/KIK-EBA Syariah, EBA-SP/EBA-SP Syariah.

Dukungan pemangku kepentingan pasar modal menjadi faktor penting dalam pencapaian target tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X