Pelibatan IKM dikelompokkan berdasarkan kesiapan teknologi, antara lain :
- Komponen Dasar: Komponen logam, plastik, karet, jok, bracket, housing, sheet metal, fastener, serta wiring harness.
- Komponen Lanjut: Battery housing, motor housing, precision machining, sistem kelistrikan, hingga power electronics.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan bahwa keberhasilan program diukur dari realisasi transaksi dan komitmen pembelian.
“Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah IKM yang mengikuti business matching, tetapi berapa banyak yang berhasil menjadi qualified supplier dan mendapatkan pesanan industri secara berkelanjutan,” ujar Reni.
Reni menambahkan komitmen pemerintah untuk mendorong daya saing IKM di tingkat global.
“IKM harus menjadi bagian dari rantai pasok, menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan pada waktunya mampu bersaing di pasar global,” jelas Reni.
Melalui Ditjen IKMA dan Direktorat IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA), Kemenperin pada tahun 2026 mengintensifkan pemetaan kebutuhan komponen Agen Pemegang Merek (APM), program business matching, serta pelatihan servis dan perakitan kendaraan listrik roda dua maupun roda tiga multiguna.
Plt. Direktur IKM LMEA Budi Setiawan mengonfirmasi bahwa langkah ini dijalankan bersama satu APM motor listrik dan dua APM mobil listrik nasional.
(Prabu Warah)